Seberapa Jauh Sebuah IP Bisa Berkembang?
Pengembangan IP bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari kolaborasi dengan brand, produk koleksi, hingga aksesori yang memperluas pengalaman penggemarnya. Sekilas, ketiganya tidak memiliki banyak kesamaan. Namun, dalam industri Intellectual Property (IP), produk-produk ini memperlihatkan bagaimana sebuah karakter dapat tampil jauh melampaui karya asalnya.
Kolaborasi Anua x K-Pop Demon Hunters, lini figur koleksi, hingga aksesori Labubu menunjukkan bentuk pengembangan IP yang berbeda.
Pertanyaannya, apa yang membuat ekspansi tersebut relevan bagi audiens, bukan sekadar menambahkan jenis produknya?
Melalui materi Finding the Next Big Thing: Business Aspect of IP Development, UMN Consulting mengangkat sejumlah pertimbangan yang dapat membantu menjawabnya.
Kolaborasi yang Tidak Terasa Dipaksakan
Apa yang membuat IP hiburan dan brand skincare layak disatukan?

Kolaborasi Anua x K-Pop Demon Hunters menjadi contoh yang diangkat dalam materi UMN Consulting. Di balik peluang memperluas jangkauan audiens, terdapat prinsip organic integration: kerja sama yang memiliki keselarasan nilai dan tetap terasa autentik bagi kedua pihak.
Mainan (Tidak) Hanya untuk Anak-anak
Bagi sebagian konsumen dewasa, figur koleksi bukan sekadar mainan. Ada rasa nostalgia, balas dendam masa kecil, apresiasi terhadap kualitas dan detail, serta kepuasan memiliki karakter favorit.
Fenomena ini dikenal sebagai “Kidult”.

Riset mencatat bahwa konsumen Kidult berkontribusi sekitar 28% terhadap penjualan mainan global pada 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumen dewasa merupakan segmen yang perlu diperhitungkan dalam industri mainan.

Dari sini, muncul pelajaran penting: pengembangan produk tidak cukup hanya mengikuti popularitas karakter. Kita juga perlu memahami siapa yang membeli, apa motivasinya, dan nilai seperti apa yang mereka cari.
Labubu: Peluang Pengembangan IP di Luar Produk Utama
Bagaimana jika pengalaman memiliki sebuah karakter tidak berhenti pada figur koleksinya?
Dalam pembahasan tren art toys, UMN Consulting menyoroti crossover Labubu x One Piece serta munculnya aksesori tambahan untuk Labubu. Keduanya menggambarkan peluang memperluas pengalaman koleksi melalui kolaborasi dan produk pelengkap.

Potensi kategori produk turunan juga terlihat dalam proyeksi monetisasi IP yang dikutip UMN Consulting dari License Global. Dari survei terhadap 93 licensor global, 70% menempatkan fashion/apparel sebagai kategori prioritas, diikuti toys/games (54%) dan food & beverage (52%).

Persentase tersebut menggambarkan prioritas pengembangan kategori menurut responden industri, bukan pangsa pasar atau angka penjualan IP tertentu. Bagi kreator, peluang ekspansi memang beragam. Namun, tidak semua kategori otomatis cocok untuk setiap IP.
So, Apa yang Membuat Sebuah IP Berpotensi Berkembang?
Ketiga contoh ini memperlihatkan bahwa IP dapat berkembang melalui jalur yang berbeda: Kolaborasi, produk koleksi untuk segmen tertentu, maupun produk pelengkap.
Namun, seperti yang ditekankan dalam materi UMN Consulting, tidak ada formula tunggal yang menjamin keberhasilan komersial sebuah IP. Identitas yang kuat perlu dibarengi pemahaman audiens dan validasi pasar. Sebelum ekpansi bisnis, kreator dapat menguji konsep melalui survei, wawancara, hingga tes pre-order untuk memahami minat dan kesediaan membeli.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya “produk apa lagi yang bisa dibuat dari IP ini?”, melainkan:
“Apakah produk tersebut benar-benar relevan dan memiliki nilai bagi audiens yang ingin kita jangkau?”
***
Ingin memahami lebih jauh bagaimana sebuah IP dapat menemukan peluang bisnisnya?
Temukan pembahasan selengkapnya dalam materi “Finding the Next Big Thing: Business Aspect of IP Development” dari UMN Consulting.
Akses materi lengkapnya melalui link berikut ini:


